KITA TELAH DIBENTUK ULANG DALAM KRISTUS

Efesus 2:10

Makna Tema

Tema ini merujuk pada dua hal:
Pertama, kata "sudah" itu menunjukkan bahwa pekerjaan keselamatan Yesus telah dikerjakan sejak awal sesudah Masehi 2000 tahun yang lalu. 
Sementara "dibentuk ulang" dimaksudkan bahwa Yesus tidak sekadar memperbaiki bagian yang rusak, seperti perumpamaan-Nya: kantong lama menempel pada kantong baru. Namun, Dia menyiapkan kantong plastik yang baru agar anggur ramasan tetap aman dan tidak robek (Lukas 5:38). Artinya, tidak sekadar memperbaiki, tetapi diperbarui secara total menjadi manusia yang baru dalam Kristus Tuhan (2 Korintus 5:17). 

Dalam kita, kejadian yang dikisahkan Allah menjadikan manusia akhir dari penciptaan segala sesuatu. Lalu dalam perjanjian baru kita, manusia menjadi pusat dan perhatian pertama yang dapat diperbarui. 

Mengapa Dibentuk Ulang

Dalam Firman Tuhan tertuliskan bahwa nenek moyang manusia, yaitu Adam dan Hawa, melawan perintah dan melanggar Hukum Allah, lalu mewariskan sifat dosa kepada manusia. Setelah jatuh ke dalam dosa, dari generasi ke generasi kejahatan semakin bertambah; peralihan hidup berpusat pada dirinya sendiri. Dari dosa membuahkan maut dan maut itu membawa kematian, seperti peristiwa Air Bah pada zaman Nuh, ketika Nimrod berkuasa dst. Kondisi tersebut membuat Allah sakit hati dan menyesal, lalu berkata, "Mengapa Aku menjadikan manusia?" (Kejadian 6:6). 

Sekalipun perilaku manusia yang begitu membuat kita semakin menjauhi Allah, kita ingat ikrar keselamatan Tuhan sejak di Taman Eden mengenai janji keselamatan (Kejadian 3:15).

Firman tertuliskan dalam pertikaian yang sengit bahwa Yesus akan menang. Kemenangan diraih-Nya sebagai seorang hamba yang lemah (Yesaya 52). Artinya, rebut kemenangan melalui suatu pemberontakan seperti dalam sistem politik dunia. Melainkan, ini justru pergulatan jiwa. Sebab jiwa merupakan pusat keberadaan natur basic Allah pada manusia yang telah rusak. Ia masuk ke dalam dunia pusat keberadaan natur Diri-Nya, mengalami kelemahan dan kehinaan untuk merestorasi kembali natur Allah yang pelahan mulia redup. 

Jikalau kita baca Doa Yesus tiga kali sebelum menghadapi penderitaan di Taman Getsemane, keringatnya berubah menjadi darah dan hatinya rasanya sangat susah (Matius 26:36-46). Seperti hati Yesus hancur meluluh menjadi pecahan-pecahan kecil ketika tampak jelas secara sempurna betapa dalamnya, rumitnya, dan seriusnya dosa kita yang begitu melewati ambang batas yang akan menanggungnya. 

Gambaran yang begitu jelas: Yesus melihat siksaan tidak hanya fisik, tetapi juga penderitaan batin yang amat dalam. Di saat yang sama Allah meninggalkan Dia, untuk beberapa saat saja kuasa keilahiannya diambil dari-Nya (Markus 15:34 bdk. Mazmur 22:1). 

Dalam kesengsaraan dan penderitaan yang pelik, Kristus benar-benar dapat mengatasi dosa dan kejahatan dari nenek moyang sampai generasi kita saat ini. Kematian-Nya menunjukkan telah terkuburkan ke dalam perut bumi. Lalu memperbaiki jiwa yang lama dan mengenakan natur baru yang telah Allah rancang sebelum dunia dijadikan (Efesus 2:10).

Untuk Melakukan Pekerjaan Yang Disiapkan Allah

Ketika Tuhan berada di luar ruang dan waktu, Dia ingin menikmati suatu hubungan yang harmonis antara pencipta dan ciptaan. Untuk memenuhi tujuan tersebut, Allah membuat manusia yang dilengkapi dengan muatan sifat dan gambar-Nya sendiri. Dia juga mengejawantahkan mandat budaya dan secara moral untuk memberi tanggung jawab imannya terhadap Tuhan sendiri. Manusia sebagai tangan panjang Allah dapat melaksanakan fungsinya sepenuhnya demi kemuliaan Tuhan. Dia mau agar dalam kekudusan dan kesempurnaan hubungan tersebut dapat terjaga dengan baik. 

Ia mau agar jalinan itu tetap dilestarikan, tidak hanya secara vertikal berhubungan dengan TUHAN. Tetapi juga dapat diwujudkan antarsesama, termasuk seluruh ciptaan lain, melalui pengusahawanan dan restrukturisasi. Hubungan ini harus ditandai dengan kekudusan, kesempurnaan, keharmonisan, kasih mesra serta kesatuan yang utuh. Atas proses serasi yang indah, manusia dapat melaksanakan tanggung jawab iman untuk memuliakan Allah. 

Akan tetapi, tujuan Allah itu telah ditolak dan manusia memilih jalannya sendiri. Walaupun manusia berpaling dari Allah, sikap tersebut tidak mempengaruhi ataupun mengubah tujuan ketetapan Allah. Dia adalah TUHAN yang konsisten dan tidak pernah berubah dari kekal sampai selamanya. 

Oleh sebab itu, Kristus datang menyelesaikan utang dosa dan membawa manusia benar dihadapan Allah. Agar kita hidup dalam suatu persekutuan kudus dan melakukan pekerjaan sesuai rencana dan kehendak Allah.

Dia Mau Supaya Kita Hidup Di Dalamnya

Allah merencanakan dalam kekuasaan-Nya untuk menikmati suatu persekutuan hangat, lebih khususnya antara Allah dan manusia. Bukan sekedar saling mengetahui tetapi kedekatan batin yang mendalam memahami dirinya sebagai ciptaan unik dilengkapi dengan kekuatan supra Allah. Dirinya, sebagai manifestasi Allah ke bumi, dapat mengerjakan tugas untuk dan mengatasnamakan Allah. Kesenangan, tujuan dan kehendak Allah berada di atas cara kita berpikir, berinisiatif dan bertindak. Menyenangkan Allah merupakan tujuan mendasar. 

Allah hanya memilih YESUS KRISTUS sebagai pintu dan jalan bagi keselamatan (Kis 4:12). Dia telah membayar lunas serta memutuskan rantai dosa dan memungkinkan kita dapat menikmati keselamatan secara cuma-cuma. Iman menjadi kunci penerimaan dan pengampunan. Lalu membasuhan noda kehinaan dan kebejatan dalam darah-Nya. Bagi siapa saja yang mengakui dan menerima Kristus sebagai TUHAN dan juru selamat pribadi, Dia akan memberikan kuasa sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Anak-anak yang memiliki hak waris dalam kerajaan sorga (Galatia 4:7).

Itulah sebabnya, kini mengetuk setiap hati kita. Siapa yang mendengar suara itu dan membuka hati, dia akan masuk dan tinggal bersama kita (Wahyu 3:20). 

Ketika Yesus ada dalam diri kita, kita akan mengenal diri kita yang sesungguhnya. Dan pula mengetahui apa yang harus kita sebagai anak-anak Allah. Saat ini Yesus mengatakan kepada kita bahwa kalau kamu dapat SAYA dan tinggal di dalam Aku, kamu akan tahu diri serta mengenal tujuan hidup. 

Komentar