My Journal at Devostion Night
Kisah Para Rasul 9:1–19
Journal Hengki's
Dalam teks ini dikisahkan tentang
pertobatan Saulus setelah Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya. Saulus adalah
seorang Yahudi yang sangat radikal dalam mempertahankan legalitas hukum Taurat.
Ia dengan gigih menganiaya orang-orang Kristen karena ia meyakini bahwa apa
yang dilakukannya adalah bentuk kesetiaan kepada hukum Taurat. Bahkan, ia
pernah menyetujui hukuman mati terhadap Stefanus, seorang saksi Kristus yang
setia (Kisah Para Rasul 7:58–60; 8:1).
Suatu ketika Saulus sedang dalam
perjalanan menuju Damsyik untuk menangkap orang-orang Kristen di sana. Namun di
tengah perjalanan itu, Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya dalam suatu
cahaya yang sangat terang. Yesus berkata kepadanya bahwa penganiayaan terhadap
orang-orang Kristen sama saja dengan menganiaya secara langsung
terhadap Yesus sendiri (Kisah Para Rasul 9:3–5).
Cahaya yang sangat terang itu membuat
Saulus menjadi buta sehingga ia tidak dapat melanjutkan perjalanannya. Ia
kemudian dibawa ke Damsyik. Selama tiga hari lamanya Saulus tidak dapat
melihat, dan ia juga tidak makan maupun minum (Kisah
Para Rasul 9:8–9).
Angka tiga memiliki makna yang penting
karena mengingatkan kita pada peristiwa kematian Yesus selama tiga hari.
Kegelapan sering kali melambangkan dosa, kematian, dan kondisi manusia yang
jauh dari Tuhan. Saat Yesus mengalami kematian selama tiga hari, Ia sedang
menyelesaikan karya penebusan bagi manusia. Melalui kebangkitan-Nya pada hari
ketiga, Yesus memperoleh kemenangan atas dosa dan maut (Matius 12:40; 1 Korintus 15:3–4).
Masa kegelapan yang dialami Saulus
selama tiga hari juga memiliki makna yang mendalam. Masa itu menjadi momen
perenungan dan titik balik dalam hidupnya. Tuhan kemudian mengutus seorang
murid bernama Ananias untuk datang kepada Saulus dan mendoakannya (Kisah Para Rasul 9:10–12).
Ketika Ananias menumpangkan tangan dan
berdoa, sesuatu seperti sisik jatuh dari mata Saulus sehingga ia dapat melihat
kembali. Setelah itu Saulus bangkit dan dibaptis. Peristiwa ini menjadi awal
kehidupan baru baginya (Kisah Para Rasul
9:17–18).
Saulus yang dahulu dikenal sebagai
penganiaya orang Kristen kemudian berubah menjadi seorang pelayan Tuhan yang
sungguh-sungguh. Ia kemudian dikenal sebagai Rasul Paulus, seorang rasul yang
dipakai Tuhan secara luar biasa untuk memberitakan Injil kepada banyak bangsa (Kisah Para Rasul 13:9; Roma 1:1). Paulus
bahkan menjadi salah satu misionaris terbesar dalam sejarah Alkitab.
Dari kisah pertobatan Paulus ini kita
belajar bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja tanpa memandang masa lalu
seseorang. Tuhan mampu mengubah hidup orang yang sungguh-sungguh bertobat.
Pertobatan menjadi titik balik yang memulai transformasi hidup seseorang.
Pertobatan bukan hanya sekadar kesadaran
akan kesalahan masa lalu, tetapi juga penyesalan yang mendalam serta keputusan
untuk meninggalkan kehidupan yang lama. Segala sesuatu yang tidak seturut
dengan kehendak Allah sesungguhnya melukai hati-Nya, bukan hanya karena dosa
manusia, tetapi karena gambar Allah dalam diri manusia menjadi semakin samar
ketika manusia menjauh dari-Nya (Kejadian 1:27; Roma
3:23).
Yesus juga mengajarkan bahwa mengikuti
Dia berarti meninggalkan segala sesuatu yang lebih kita kasihi daripada Tuhan.
Dalam Injil Matius 10:35–38, Yesus berkata bahwa
kehadiran-Nya dapat membawa pemisahan, bahkan dalam keluarga, karena mengikuti
Kristus menuntut kesetiaan yang total kepada-Nya.
Selain itu, dalam Injil Lukas 10:27, Yesus juga mengajarkan
bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap
kekuatan, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri kita
sendiri. Artinya, tidak ada sesuatu pun dalam hidup ini yang lebih utama daripada
Tuhan.
Sering kali dalam hidup ini kita
berjuang keras mempertahankan sesuatu dengan berbagai alasan. Kita merasa bahwa
apa yang kita lakukan adalah benar, sama seperti Saulus dahulu yang dengan
gigih mempertahankan keyakinannya. Namun kisah Saulus mengajarkan bahwa ketika
seseorang berjumpa dengan Kristus secara pribadi, hidupnya dapat diubah secara
total.
Karena itu, setiap orang perlu mengalami
pertobatan yang sejati. Ketika seseorang membuka hati kepada Tuhan, Ia sanggup
mengubah masa lalu yang gelap menjadi masa depan yang penuh dengan tujuan dan
panggilan ilahi (2 Korintus 5:17).

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah membaca tulisan ini. Kami sangat menghargai setiap pemikiran dan pengalaman yang anda bagikan. Silakan tuliskan komentar anda dengan penuh kejujuran dan rasa hormat, agar diskusi ini menjadi ruang yang membangun dan memberkati semua pembaca. Amakanee