Tangkapan atas buku DISTRIBUSI MANUSIA DAN KEBUDAYAAN: Isu-isu Ras, Etnik, dan Kultur Are dalam konteks Papua
By Hengki Wamuni
Saya akan membuat tangkapan atas buku berjudul Distribusi Manusia
dan Kebudayaan: Isu-isu Ras, Etnik, dan Kultur Are. Namun, saya hanya ingin
menanggapi buku ini secara khusus dalam konteks Papua, sesuai dengan
bagian-bagian tertentu yang telah saya baca.
Buku ini merupakan salah satu karya yang dapat ditempatkan dalam
kategori kritik sastra, atau lebih tepatnya sebagai studi tandingan terhadap
bangunan pengetahuan yang bias Eropa tentang Papua. Buku ini penting karena
penulisnya adalah orang asli Papua yang berani membongkar konstruksi
pengetahuan luar tentang Papua, dengan menggunakan metode yang terbuka untuk
mengangkat perspektif masyarakat asli mengenai sejarah dan pandangan hidup
mereka sendiri.
Keunikan buku ini terletak pada penggunaan pemahaman masyarakat
asli tentang etnohistografi sebagai titik pangkal penelitian. Langkah ini dapat
dilihat sebagai sebuah terobosan baru dalam dunia penelitian antropologi dan
sejarah, khususnya dalam konteks Papua. Ibrahim Peyon dapat dipandang sebagai
salah satu intelektual Papua yang secara konsisten menempatkan sudut pandang
masyarakat asli Papua sebagai subjek studi mereka.
Dengan demikian, buku ini hadir sebagai bagian dari upaya
mengembalikan pengetahuan asli Papua yang selama ini lebih banyak
direpresentasikan oleh pihak luar. Seringkali pandangan hidup masyarakat
objektif penelitiannya diabaikan dalam jajaran persepsi dominasi pakar western.
Sebelum masuk ke isi pokok buku, terlebih dahulu perlu
diperkenalkan penulisnya. Penulis buku ini adalah Ibrahim Peyon. Ia berasal
dari etnik Yali di Pegunungan Tengah Papua. Peyon merupakan seorang
intelektual, akademisi, dan penulis yang telah menghasilkan 12 buku serta
beberapa artikel yang dipublikasikan melalui berbagai media, baik media cetak
maupun media daring di Indonesia dan Jerman.
Dalam buku ini, penulis mengkritik secara tegas sejumlah teori
yang diciptakan oleh para pakar Eropa mengenai pemetaan wilayah adat dan
antropologi Melanesia.
Pertama, penulis membantah
penetapan tujuh wilayah adat Papua yang saat ini digunakan sebagai wilayah
kultur masyarakat adat oleh Lembaga Adat Papua. Menurut keyakinan penulis,
pemetaan dan pembagian wilayah adat Papua tersebut merupakan strategi kolonial
yang dibentuk untuk kepentingan politik tertentu.
Untuk memahami letak wilayah dan kebudayaan di Melanesia, penulis menggunakan
pendekatan sepuluh kriteria sebagai alat analisis wilayah kebudayaan.
Berdasarkan kriteria tersebut, ia kemudian memetakan 26 wilayah kebudayaan.
Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini dapat dibaca pada halaman 544–557.
Kedua, penulis mengkritik
teori Birdsell yang menyatakan bahwa leluhur Melanesia bermigrasi dari Afrika.
Berdasarkan penelitian lapangan, penulis berpendapat bahwa manusia Papua telah
berada di atas tanah Papua sejak permulaan keberadaan manusia di muka bumi.
Orang Papua, menurut pandangan ini, bukanlah bangsa nomaden, melainkan telah
hidup secara mandiri dan otonom di tanah Papua sejak sekitar 500 ribu tahun
yang lalu.
Ketiga, penulis juga membantah pandangan-pandangan rasis terhadap orang Papua. Dalam hal ini, ia menolak anggapan bahwa orang Papua mengalami proses evolusi dari seekor hewan, sebagaimana secara keliru sering dikaitkan dengan teori Darwin. Sebaliknya, penulis menegaskan bahwa manusia Papua terbentuk melalui proses perubahan dari dalam yang dipengaruhi secara alami oleh keadaan lingkungan, iklim, dan kondisi alam yang tertutup, yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah membaca tulisan ini. Kami sangat menghargai setiap pemikiran dan pengalaman yang anda bagikan. Silakan tuliskan komentar anda dengan penuh kejujuran dan rasa hormat, agar diskusi ini menjadi ruang yang membangun dan memberkati semua pembaca. Amakanee