Tanpa berpikir panjang, saya menyatakan kesediaan untuk mengumpulkan data persyaratan. Malam itu juga saya mengirim data, termasuk KTP dan KK, melalui Bapak Marten. Tak lama kemudian, beliau membalas dengan berkata, “Ko berdoa supaya nama mu diterima.”
Saya segera masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu berdoa singkat. Baru saja selesai, sebuah pesan masuk: “Bila anda diterima, pihak pemerintah akan menelpon.” Malam itu saya sulit beristirahat dengan tenang, hanya menunggu kabar. Puji Tuhan, pada subuh hari berikutnya, sesaat setelah doa pagi, pesan baru masuk: “Nama kamu diterima!”
Tak hanya itu, saya juga mendapat informasi untuk melengkapi beberapa berkas tambahan dari nomor yang tidak dikenal. Admin panitia kemudian mengirim link formulir resmi rekrutmen siswa Paterning Papua Tengah.
Hari Selasa, saya melengkapi semua berkas yang diminta, lalu mendapat pesan bahwa saya harus berangkat ke Jayapura pada Rabu pagi. Tepat pukul 5 subuh, saya berangkat dari Bandara Udara Nabire Douw Aturure menuju Jayapura. Semua komunikasi dan melengkapi kesiapan difasilitasi oleh orang tua bapa Marten Tipagau, S. Sos dengan Pdt. Apniel Tipagau, S. Pdk. Saya direkomendasikan atas nama dari Koordinator Intan Jaya Gereja Kemah Injil (KINGMI) Di Tanah Papua,
Setiba di Bandara Udara Internasional Dortheys Hiyo Eluay, Sentani-Jayapura, saya dijemput langsung oleh pengurus YPA-Papua. Saat tiba, kegiatan orientasi sudah berlangsung, dan saya bergabung di pertengahan acara. Pada sesi itu, memperkenalkan para alumni YPA-PAPUA yang kini mereka kerja di berbagai bidang dan tempat di Tanah Papua.
Orientasi berlangsung selama dua minggu. Materi yang diberikan mencakup disiplin diri, manajemen waktu, membangun komunitas yang solider dan penuh rasa hormat, serta cara belajar yang tepat. Kami juga diperkenalkan pada lingkungan TITIP YPA-Papua, sistem akademik, jadwal, serta para pengajar yang akan mendampingi selama satu tahun ke depan.
Selain itu, panitia mengajak kami berkunjung ke tempat cetak lukis Papua di Sentani dan rekreasi ke Ifar Gunung pada akhir pekan. Kunjungan ke tempat cetak lukis mengajarkan kami untuk memiliki keterampilan serta mengelola potensi yang ada.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan menegaskan bahwa anak-anak Papua harus berpikir maju, berdaya saing, serta mampu mengembangkan dan mempromosikan kekayaan alam dan budaya Papua. Beliau mengingatkan bahwa Papua sering dijuluki “surga kedua di bumi,” namun sayangnya masih banyak anak muda yang belum bangun dari “tidur panjang” di tengah lumbung kekayaan yang tak terhingga. Oleh karena itu, generasi muda Papua ditantang untuk berpikir kritis, mengembangkan keterampilan, dan mengelola sumber daya yang dimiliki.
Puncak orientasi ditutup dengan tur keliling lingkungan TITIP YPA-Papua, memperkenalkan gedung dan kantor.
Pada hari Senin berikutnya pada tanggal 04/09/2025, diadakan kuliah umum sebagai penutup masa orientasi sekaligus pembukaan resmi program Paterning Papua Tengah tahun 2025. Kegiatan tersebut dibuka oleh pemerintah Provinsi Papua. Hari Selasa, 05/08 pun menjadi awal bagi kami untuk memulai proses belajar di JPA-PAPUA sebagai sistem Paterning tahun 2025.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah membaca tulisan ini. Kami sangat menghargai setiap pemikiran dan pengalaman yang anda bagikan. Silakan tuliskan komentar anda dengan penuh kejujuran dan rasa hormat, agar diskusi ini menjadi ruang yang membangun dan memberkati semua pembaca. Amakanee