Langsung ke konten utama

KISAH REKRUTMEN SISWA PROGRAM PATERNING PAPUA TENGAH

Tepat pada Senin 20 Agustus 2025 malam, saya mendapat informasi tentang rekrutmen siswa untuk kursus bahasa Inggris dalam program Paterning. Awalnya saya tidak tahu soal info ini, karena tidak memiliki headphone untuk mengikuti pengumuman secara online. Menjelang malam, saya langsung menanyakan hal itu kepada Bapak Marten Tipagau, sumber informan. Beliau menanggapi dengan ekspresi serius sambil menatap wajah saya, lalu berkata, “Kursus ini penting.”

Tanpa berpikir panjang, saya menyatakan kesediaan untuk mengumpulkan data persyaratan. Malam itu juga saya mengirim data, termasuk KTP dan KK, melalui Bapak Marten. Tak lama kemudian, beliau membalas dengan berkata, “Ko berdoa supaya nama mu diterima.”

Saya segera masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu berdoa singkat. Baru saja selesai, sebuah pesan masuk: “Bila anda diterima, pihak pemerintah akan menelpon.” Malam itu saya sulit beristirahat dengan tenang, hanya menunggu kabar. Puji Tuhan, pada subuh hari berikutnya, sesaat setelah doa pagi, pesan baru masuk: “Nama kamu diterima!”

Tak hanya itu, saya juga mendapat informasi untuk melengkapi beberapa berkas tambahan dari nomor yang tidak dikenal. Admin panitia kemudian mengirim link formulir resmi rekrutmen siswa Paterning Papua Tengah.

Hari Selasa, saya melengkapi semua berkas yang diminta, lalu mendapat pesan bahwa saya harus berangkat ke Jayapura pada Rabu pagi. Tepat pukul 5 subuh, saya berangkat dari Bandara Udara Nabire Douw Aturure menuju Jayapura. Semua komunikasi dan melengkapi kesiapan difasilitasi oleh orang tua bapa Marten Tipagau, S. Sos dengan Pdt. Apniel Tipagau, S. Pdk. Saya direkomendasikan atas nama dari Koordinator Intan Jaya Gereja Kemah Injil (KINGMI) Di Tanah Papua,

Setiba di Bandara Udara Internasional Dortheys Hiyo Eluay, Sentani-Jayapura, saya dijemput langsung oleh pengurus YPA-Papua. Saat tiba, kegiatan orientasi sudah berlangsung, dan saya bergabung di pertengahan acara. Pada sesi itu, memperkenalkan para alumni YPA-PAPUA yang kini mereka kerja di berbagai bidang dan tempat di Tanah Papua.

Orientasi berlangsung selama dua minggu. Materi yang diberikan mencakup disiplin diri, manajemen waktu, membangun komunitas yang solider dan penuh rasa hormat, serta cara belajar yang tepat. Kami juga diperkenalkan pada lingkungan TITIP YPA-Papua, sistem akademik, jadwal, serta para pengajar yang akan mendampingi selama satu tahun ke depan.

Selain itu, panitia mengajak kami berkunjung ke tempat cetak lukis Papua di Sentani dan rekreasi ke Ifar Gunung pada akhir pekan. Kunjungan ke tempat cetak lukis mengajarkan kami untuk memiliki keterampilan serta mengelola potensi yang ada.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan menegaskan bahwa anak-anak Papua harus berpikir maju, berdaya saing, serta mampu mengembangkan dan mempromosikan kekayaan alam dan budaya Papua. Beliau mengingatkan bahwa Papua sering dijuluki “surga kedua di bumi,” namun sayangnya masih banyak anak muda yang belum bangun dari “tidur panjang” di tengah lumbung kekayaan yang tak terhingga. Oleh karena itu, generasi muda Papua ditantang untuk berpikir kritis, mengembangkan keterampilan, dan mengelola sumber daya yang dimiliki.

Puncak orientasi ditutup dengan tur keliling lingkungan TITIP YPA-Papua, memperkenalkan gedung dan kantor.

Pada hari Senin berikutnya pada tanggal 04/09/2025, diadakan kuliah umum sebagai penutup masa orientasi sekaligus pembukaan resmi program Paterning Papua Tengah tahun 2025. Kegiatan tersebut dibuka oleh pemerintah Provinsi Papua. Hari Selasa, 05/08 pun menjadi awal bagi kami untuk memulai proses belajar di JPA-PAPUA sebagai sistem Paterning tahun 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUKACITA MELAKUKAN TUGAS PANGGILAN DALAM KEADAAN SEBAGAIMANA KITA ADA

  Persiapan khotba untuk Ibadah Rayon 2 Jemaat Pos PI Amin Pada hari kamis, 14 Agustus 2025 Di rumah keluarga Bapak Gabriel Mbogau By Hengki Wamuni 1 Korintus 7: 17-24 (bc-17) SUKACITA MELAKUKAN TUGAS PANGGILAN DALAM KEADAAN SEBAGAIMANA KITA ADA – Berusaha Hidup Sesuai Tujuan Dan Rencana Kekal Allah Introduksi Paulus menyampaikan pesan Firman Tuhan dalam konteks jemaat Tesalonika yang saat itu menghadapi pembatasan akses dan ruang bagi pelayanan pekerjaan Tuhan. Pembatasan itu diberlakukan dengan alasan: Sistem agama dan budaya : masih terjadi perdebatan soal hukum Taurat , khususnya mengenai sunat di kalangan jemaat. Strata sosial : perbedaan antara tuan dan hamba. Status perkawinan : antara yang sudah menikah dan yang lajang. Atas hubungan perbedaan inilah, Paulus menegaskan bahwa keadaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi diri dalam menjalankan pekerjaan dan pelayanan Tuhan. Jika sudah bersunat, jangan berusaha menghapus...

MENEMUKAN IDENTITAS BARU DAN PEMULIHAN HIDUP

By Hengki Wamuni INTRODUKSI Tulisan ini adalah catatan refleksi pribadi selama mengikuti retreat. Menutup semester pertama, Yayasan Pendidikan Amamapare (YPA) Papua menyelenggarakan retreat selama tiga hari di Ruang MPR (Aula) YPA Papua. Bagi saya, momen ini sangat penting karena melalui kegiatan tersebut saya memperoleh banyak pembelajaran baru yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan pemulihan hidup. Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah para pemateri termasuk ketua komunitas mereka datang dari latar belakang pengalaman hidup yang beragam, yaitu pengalaman pahit di masa lalu. Melalui kesaksian hidup mereka, pengalaman pribadi yang telah dipulihkan menjadi kesaksian yang menguatkan dan memberkati orang lain. Dari situ kami belajar tentang kehidupan melalui kehidupan yang nyata dan hidup. Refleksi saya berawal dari kesaksian hidup yang saya dengarkan selama retreat, yang kemudian saya bandingkan dengan realitas kehidupan anak-anak Papua. PENGALAMAN KEHIDUPAN ANAK PE...

Inkarnatoris Pelayanan Gereja Dalam Konteks Realitas Jemaat

  HIDUPKAN NADI GEREJA [Inkarnatoris Pelayanan Gereja Dalam Konteks Realitas Jemaat]  By Hengki Wamuni Gereja Mulai Bergeser Dari Tugas Panggilan  Dewasa ini, dalam banyak hal, gereja tampak mulai bergeser dari pusat panggilannya. Fungsi utamanya kerap melemah, sementara perannya lebih sering terlihat sebagai tempat pertemuan rutin atau panggung untuk khotbah retorika yang indah didengar, namun kurang menyentuh realitas kehidupan jemaat. Pelayanan kadang terjebak pada formalitas dan jabatan, bukan lagi panggilan hati. "Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" ( Yohanes 15:5 ). Pergumulan Jemaat Yang Terabaikan Ironisnya, di tengah semarak kegiatan, banyak jemaat justru hidup dalam pergumulan berat yang terabaikan. Ada rumah tangga yang retak, anak-anak yang kehilangan perhatian, pemuda yang terseret ke pergaulan buruk, ibu-ibu janda yang berjuang sendiri, serta pengangguran yang dibiarkan tanpa solusi. Sebagian jemaat terjebak dalam pola hidup yang mer...