Langsung ke konten utama

KONSEP WAKTU ORANG IBRANI

 

Suatu Tanggapan

[Komparasi Dan Relevansikan Konsep Orang Ibrani dan Orang Papua Dalam Memahami Waktu]


By Hengki Wamuni

PENDAHULUAN

Waktu tidak sekedar menghitung angka dalam siklus perputaran mengenai waktu. Waktu merupakan suatu siklus kehidupan itu sendiri, di mana orang akan memaknai kehidupan dalam kerangka tertentu. Saya baru saja menonton salah satu vodcast di YouTube, dengan dua sudut pandang antara orang Timur dan orang Barat. Konsep yang berbeda dipengaruhi oleh banyak unsur yang sulit, seperti budaya, cara pandang mereka terhadap dunia, sejarah masa lalu, dan impian di masa depan.

Tangkapan saya di sini banyak menyoroti aspek spiritualitas orang Yunani dalam memaknai waktu. Dalam kerangka spiritualitas, pandangan orang Barat mengkategorikannya sebagai pemahaman sekurel dalam arti tertentu. Berupaya memposisikan diri pada konsep orang Yunani, di satu sisi mencoba memahami konsep waktu dalam hubungannya dengan iman kekristenan. Iman Kristen memiliki keyakinan akan dosa pembawaan hingga saat ini akibat kejatuhan nenek moyang manusia yang melakukan pelanggaran terhadap hukum dan perintah Allah. Tetapi oleh Yesus Kristus telah membayar lunas utang dosa dan terbelihkan dalam darah-Nya. Sehingga bagi orang yang percaya Yesus adalah Tuhan dan juruselamat pribadi, memiliki harapan akan jaminan hidup baik untuk saat ini selama berada di dunia sekarang maupun di dunia akhirat nanti, saat Yesus akan datang kedua kali ke bumi.

Di sisi lain, saya akan berusaha memilih sikap netral ketika saya memaknai waktu sebagai bagian dari arus dinamika dan proses manusia untuk mengadaptasi dengan perubahan yang terjadi. Dari sini, saya mencoba mencegah pemahaman akan fokus kehidupan pada saat sekarang ini sebagai ide utama. Dengan dasar pemikiran bahwa sebagai orang Kristen, tujuan hidup tidak berfokus hanya pada di saat ini yang sifatnya materialistik. Konsep linear itu berpusat pada diri sendiri, keuntungan pribadi, serta perhatian penuh pada waktu sekarang.

Bagian terakhirnya, saya akan mencoba membandingkan serta relevansikan dengan nilai-nilai dan budaya orang Papua dalam kerangka konsep waktu siklus. Padangan ini khususnya berangkat dari tangkapan dan pemahaman penulis sendiri. Tujuan saya hanya mencoba memahami konsep waktu, tidak sekedar angka-angka dalam siklus waktu. Melainkan konsep kebudayaan serta cara kehidupan orang Papua yang mencerminkan kesamaan poros siklus waktu orang Ibrani. Bukan berarti memiliki kesamaan secara substansi, tentu saja memiliki garis pemisah dari berbagai alasan sekurel maupun teologis.

Apa yang saya lihat dalam video di canal Yuotube?

Saya baru saja menonton sebuah siniar YouTobe yang menjelaskan mengenai konsep waktu menurut orang Ibrani dan orang Barat.

Konsep waktu terbagi menjadi dua hal, pertama, linear adalah cara menghitung waktu orang Barat yang dikategorikan sebagai sudut pandang dunia. Yang kedua, siklus, cara orang Yahudi/orang Timur Tengah menghitung waktu. Yang menariknya, kedua konsep ini memiliki cara pandang yang berbeda dalam mengitung waktu dan sangat memengaruhi cara mereka berpikir, sikap dan perilaku dalam masing-masing konteks.

Ö       Pertama Linear

Konsep linear adalah cara orang Barat melihat waktu. Secara singkat, pandangan orang barat sangat besar dipengaruhi oleh konsep kapitalis. Kapitalisme merupakan standar hidup yang mengutamakan ekonomi sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Konsep kapital mengedepankan prinsip keuntungan, kemandirian, efisiensi (penghematan), serta bersifat individualistik.

Orang Barat memandang masa lalu sebagai sejarah yang terputus hubungan dengan masa sekarang. Dengan kata lain, sejarah adalah apa yang sudah lewat dan tidak sangkut-pautkan dengan masa saat sekarang ini. Kemudian, saat ini dipandang sebagai kesempatan untuk menciptakan keberhasilan, peluang meraih keberuntungan dalam skala yang besar. Makanya, hidup terpisah dari hubungan sosial, fokus pada keluarga atau diri sendiri, hidupnya ditandai dengan penghematan.

Sementara masa depan adalah misteri yang belum terpikir saat ini. Saat ini menjadi fokus dan perhatian utama.

Ö       Yang Kedua, Siklus

Berbeda dengan orang Barat yang memaknai waktu, orang Ibrani sendiri melihat waktu itu memiliki keterhubungan secara aktif antara masa lalu, sekarang, dan masa depan. Atau dengan kata lain, sejarah masa lalu memiliki keterhubungan langsung dengan saat sekarang ini dan sekaligus sudah menentukan masa depan. Sehingga orang akan bergerak dalam lingkaran waktu yang saling terhubung yang erat.

Pemahaman ini dibentuk oleh keterhubungan langsung dengan janji (kovenan) Allah bagi nenek moyang orang Israel. Janji dan nubuatan yang diterima pada zaman patriarki dalam Perjanjian Lama, bukan cuma berlaku terbatas pada zaman mereka sendiri. Misalkan Abraham menerima janji mengenai tanah Kanaan, banyak keturunan, raja-raja berasal dari keturunannya, melalui keturunan Israel seluruh dunia akan menerima berkat dan sebagainya. Kemudian, Allah memberikan hukum sipil dan seremonial kepada Musa, di dalamnya termuat pemberkatan maupun kutukan tergantung ketaatan dan kesetian orang Israel terhadap janji Allah bagi mereka.

Pengetahuan spiritualitas menjadi dasar, tujuan, dan alasan bagi orang Israel untuk hidup. Nubuatan dan janji-janji Allah yang diturunkan pada masa patriarki itu terus dilindungi melalui ketaatan maupun perilaku. Dalam bentuk hukum dan ajarannya, diajarkan kepada anak-anak mereka agar hidup berpegang pada ukum Taurat dan mengingatkan sejarah keselamatan yang Allah buat dalam kehidupan generasi masa lalu.

Dalam Hukum Taurat itu berisi tentang hukum profan dan hukum sipil. Hukum sipil mengajarkan tentang menjaga kebersamaan dan kekeluargaan sebagai satu keluarga Allah, keadilan bagi orang-orang terlantar seperti fakir miskin, janda, piatu dan orang asing. Seperti meninggalkan sisa dari hasil panen supaya orang-orang pendatang dan keluarga yang kesulitan ekonomi bisa juga mendapatkan bagian.

Selain itu, perlakuan hukum restorasi justis bagi orang yang secara tidak sengaja melakukan tindakan amoral. Misalkan, seseorang yang tanpa sengaja membunuh seseorang, ia boleh melarikan diri ke kota perlindungan yang telah dipilih menurut Hukum Taurat.

Terutama orang Yahudi memiliki keyakinan bahwa nubuatan dan janji yang Allah berikan kepada nenek moyang masih berlaku di masa mereka dan juga terus berlanjut di masa yang akan datang. Ketika hidup menaati Firman yang dinyatakan kepada para leluhur di saat ini, maka mereka akan menerima janji-janji berkat di masa depan.

Nubuatan mengenai janji keselamatan ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa itu terus diperbarui seiring pengalaman dalam setiap masa dan generasinya. Pada masa Abraham, perjanjian tanah Kanaan dan keturunan. Ketika orang berada dalam pembuangan di Babel, mereka menantikan masa depan itu dengan seorang Mesias yang akan datang dari garis keturunan Daud dan mendirikan kerajaan Yerusalem yang baru.

Pokoknya, dosa yang dilakukan oleh nenek moyang manusia, Adam dan Hawa, turut mempengaruhi semua umat manusia. Sehingga dosa pembawaan itu tidak bisa didamaikan dengan usaha manusia. Melainkan, dari tempat yang maha tinggi, Allah sendiri akan turun membaharui serta membawah umat manusia benar di hadapan Allah melalui pengorbanan Kristus di salib.

Secara spesifik, manusia telah menerima warisan dosa dari nenek moyang umat manusia. Akibat dosa, terputusnya keterhubungan antara Allah dengan manusia, termasuk hubungan manusia antarsesama dengan alam pun ikut rusak. Itulah sebabnya Tuhan bernubuat mengenai janji keselamatan serta memulihkan kembali hubungan-Nya dengan manusia (Kejadian 3:15).

Kerangka berpikir waktu orang Ibrani: kehidupan di masa depan sudah dialami saat ini. Artinya, pemberkatan maupun kutukan untuk masa depan telah terjadi saat ini. Tergantung sikap kehidupan saat ini, hidup yang baik dan benar rewardnya akan menikmati pemberkatan di masa sekarang maupun di masa yang akan datang; sebaliknya, hidup tidak berpatokan pada kebenaran Firman Allah kutukan akan mengejar keturunan. Terutama konsep ini keterhubungan langsung dengan iman, perbuatan serta era imperium (akhir zaman) di masa depan.

Relevansikan Antara Konsep Orang Ibrani Dan Orang Papua Dalam Memahami Waktu

Saat sebelum perjumpaan Injil dengan orang Papua terjadi, ada sejumlah kebiasaan hidup orang Papua yang memiliki kemiripan dengan budaya orang Ibrani. Hal ini terlihat dari restorasi sejarah mitos suci dan asal-usul, pendidikan pengetahuan sejarah itu kepada generasi, menjaga harmonisasi hubungan antarkerabat dengan simbol tali pusat, nubuatan era keemasan serta perjuangan warga lokal yang berupaya mewujudkan impian itu dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi orang Papua, kerabat atau keluarga merupakan arti penting bagi kehidupan kita. Keluarga ialah tempat dimana pertama kali mengenal diri dan dunia, membentuk dan  menemukan arti serta pijakan hidup. Dalam kerangka hubungan kekerabatan, maka orang Papua tetap lestarikan sejarah, hermonisasi, kebersamaan, kekeluargaan, gotong royong, rukun, serta hidup dalam keseimbangan berdasarkan nilai kasih.

Bentuk Dan Mempengaruhi Konsep Orang Papua Mengenai Waktu

Aspek Imanensi

Orang Ibrani, cara hidupnya sangat inklusif dalam relasi dengan suku lain maupun arus perubahan dunia, berbeda dengan orang Papua. Orang Papua sangat eksklusif yang dipengaruhi oleh sejarah perjumpaan dengan dunia luar. Dalam konteks sejarah, orang Papua telah dipengaruhi oleh kekuatan pemerintah dan keagamaan dengan masing-masing visi yang berbeda pula.

Aspek keagamaan, imajinasi dan pola hidup orang Papua lebih dominan dipengaruhi oleh agama Kristen. Pada abad ke-20, ketika tanah Papua menjadi lapangan pekerjaan misionaris Barat, mereka memberitakan Injil dengan konsep waktu yang siklus. Para utusan misi Barat ini memperkenalkan Injil pertobatan dengan menegaskan bahwa kita ini memiliki warisan dosa nenek moyang yang perlu bertobat. Pertobatan menjadi tema sentral dalam teologi penginjilan pada era itu. Kemudian beritakan Kristus yang dipilih Allah untuk menebus dan menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Singkat kata, pengaruh agama sangat besar dalam membentuk mindset, pandangan hidup serta perilaku. Segala perjuangan yang kita upayakan, relasi yang kita menjalin, tujuan dan alasan untuk hidup, konsep Tuhan, iman serta kehidupan yang kekal di akhirat merupakan azasnya.

Aspek Sekurel

Di sisi lain, orang Papua juga berhadapan dengan ideologi kapitalis. Pada faktanya, konsep linear tidak memiliki hubungan dengan iman Kekristenan. Sebab, pada lingkaran linear hidupnya berdasarkan prinsip keuntungan pribadi, mandiri, penghematan, efisien. Selain itu, cara pandang mereka mengenai waktu, masa lalu, kini dan masa depan sangat terpisah. Hidupnya fokus pada saat ini, dan masa depan bagi mereka adalah suatu misteri yang tidak perlu dipikirkan saat ini.

Dalam relasi kekeluargaan, tujuan dan kesibukan pribadi menjadi kepentingan utama bagi mereka. Orang Barat yang memiliki lingkaran linear harus menentukan waktu sebelum bertemu dengan keluarga atau orang lain. Bila datang di waktu lain di luar kesepakatan, mereka tidak akan pernah membuka pintu  untuk menerima tamu.

Tantangan bagi orang Papua Adaptasi dua siklus Waktu Sambil Restarikan Moralitas Budaya Sebagai orang Papua

Tantangan dan Solusi Segi Teologis

Konsep orang Kristen Papua yang memahami nilai-nilai budaya yang sudah ada di Papua jauh sebelum mengenal dunia luar dianggap telah usang. Apa lagi dalam hubungan iman, budayanya sendiri memiliki konotasi negatif. Akibatnya, jati diri secara perlahan mulai hilang, tidak punya standar dasar pijakan yang kuat yang berpotensi menghilangkannya. Dari sinilah, secara sadar atau tidak sadar, tindakan tersebut bermuara pada tergantikan nilai-nilai budaya demi iman dalam relasi teologi.

Bagi saya, hal ini tidak sekedar salah satu upaya yang perlu, tetapi suatu kemendesakan yang harus kita rethinking ulang dalam kerangka yang baru. Dengan berpedoman pada prinsip kontekstualisasi yang dimulai oleh Allah, mengejawantahkan Firman, hikmat dan tujuan-Nya melalui medium budaya yang telah ada dalam konteks budaya orang Yahudi. Dengan kerangka berpikir begini, sangat penting berpikir kritis dan memaknai ulang Injil itu dalam pola pemahaman dan arti yang sudah ada. Injil menjadi cermin untuk memperbaiki dan melestarikan tatanan hidup dan makna baru demi kesejahteraan hidup yang mengimbangi. Karena pada dasarnya, Injil tetap berada di atas kebudayaan di bumi. Di sinilah suatu kemendesakan untuk memaknai ulang segala sesuatu dalam terang Injil.

Tantangan dan Solusi Segi Sekuler

Di sisi lain, seperti Indonesia yang mengejawantahkan ideologi kapitalis dengan sistemnya, tentu saja punya dampak yang sangat nyata. Ideologi kapitalis mengedepankan prinsip hidup yang bersifat individualistik, sulit mempertahankan hidup yang bersama, saling mengasihi, menolong orang yang susah. Padahal, kesuksesan dalam Firman Tuhan itu kehidupan yang berimbang, bukan ciptakan piramida hidup atas dasar kelas dan tingkat sosial.

Selain itu, bagi generasi alpa omega yang hidup di era disrupsi industri dan teknologi ini, sangat mustahil untuk merestarikan nilai-nilai hidup dan perintah Firman Tuhan untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Kata mengasihi tidak hanya suatu tindakan yang ditunjukkan dalam relasi antara Allah dan sesama manusia, melainkan mampu bertahan dan restarikan keunikan dan kerangka hidup yang Tuhan taruh yang menjadi kebiasaan hidup sebagai orang Papua.

Manusia sebagai agen perubahan, menerima perubahan baru dalam kerangka budaya kita yang telah ada dengan bernalar kritis. Karena pada intinya tidak segala sesuatu yang dipandang baik itu cocok bagi kehidupan kita dalam konteks budaya kita.

KESIMPULAN

Bagi generasi Papua yang bertumbuh di era digital ini, wajib memiliki suatu landasan hidup yang jelas, landasan hidup dalam hubungan segitiga. Satu segi manusia sebagai makhluk religius, tentu agama merupakan pijakan dasar kehidupan kita. Sementara itu, sebagai makhluk budaya, dari situlah terdapat nilai keunikan sebagai anugerah Tuhan yang perlu restarikan dan dijaga untuk kelangsungan hidup. Pada segi yang ketiga, sangat mustahil untuk berupaya menghindarkan diri dari arus perubahan zaman yang begitu cepat.

Tantangannya bukan siap atau tidaknya respon kita, melainkan bagaimana Injil menjadi cermin untuk memaknai ulang nilai-nilai budaya serta mampu menyesuaikan diri dengan dinamika perubahan tersebut tanpa menghilangan jati diri dan mendistorsi iman kita.

Tuhan berkati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUKACITA MELAKUKAN TUGAS PANGGILAN DALAM KEADAAN SEBAGAIMANA KITA ADA

  Persiapan khotba untuk Ibadah Rayon 2 Jemaat Pos PI Amin Pada hari kamis, 14 Agustus 2025 Di rumah keluarga Bapak Gabriel Mbogau By Hengki Wamuni 1 Korintus 7: 17-24 (bc-17) SUKACITA MELAKUKAN TUGAS PANGGILAN DALAM KEADAAN SEBAGAIMANA KITA ADA – Berusaha Hidup Sesuai Tujuan Dan Rencana Kekal Allah Introduksi Paulus menyampaikan pesan Firman Tuhan dalam konteks jemaat Tesalonika yang saat itu menghadapi pembatasan akses dan ruang bagi pelayanan pekerjaan Tuhan. Pembatasan itu diberlakukan dengan alasan: Sistem agama dan budaya : masih terjadi perdebatan soal hukum Taurat , khususnya mengenai sunat di kalangan jemaat. Strata sosial : perbedaan antara tuan dan hamba. Status perkawinan : antara yang sudah menikah dan yang lajang. Atas hubungan perbedaan inilah, Paulus menegaskan bahwa keadaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi diri dalam menjalankan pekerjaan dan pelayanan Tuhan. Jika sudah bersunat, jangan berusaha menghapus...

MENEMUKAN IDENTITAS BARU DAN PEMULIHAN HIDUP

By Hengki Wamuni INTRODUKSI Tulisan ini catatan refleksi pribadi. Menutup semester pertama, Yayasan Pelayanan Antarbudaya Papua menyelenggarakan retreat selama tiga hari bertempat di Ruang MPR YPA Papua. Bagi saya, momen ini sangat penting karena melalui kegiatan tersebut saya memperoleh banyak pembelajaran baru yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan pemulihan hidup dalam Kristus. Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah para pemateri, termasuk ketua komunitas mereka, datang dari latar belakang pengalaman hidup yang beragam, yaitu pengalaman pahit di masa lalu. Melalui kesaksian hidup mereka, pengalaman pribadi yang telah dipulihkan menjadi kesaksian hidup yang menguatkan dan memberkati para student patterning program, tentu saja. Dari situ kami belajar tentang arti perubahan yang sesungguhnya melalui pengalaman orang-orang yang mengalami Yesus secara nyata. Refleksi saya berawal dari kesaksian hidup yang saya dengar selama retreat, yang kemudian saya bandingkan dengan...

KITA TELAH DIBENTUK ULANG DALAM KRISTUS

Efesus 2:10 Makna Tema Tema ini merujuk pada dua hal: Pertama, kata "sudah" itu menunjukkan bahwa pekerjaan keselamatan Yesus sudah dikerjakan sejak awal sesudah Masehi 2000 tahun yang lalu.  Sementara "dibentuk ulang" dimaksudkan bahwa Yesus tidak sekadar memperbaiki bagian yang rusak yang diumpamakan dengan kantong lama yang menempel pada kantong baru. Namun, Dia menyiapkan kantong plastik yang baru agar anggur ramasan tetap aman dan tidak robek (Lukas 5:38). Artinya, tidak memperbaiki bagian yang kecil tertentu saja, melainkan memperbarui secara total menjadi manusia yang baru dalam Kristus Tuhan (2 Korintus 5:17).  Dalam Kitab Kejadian yang dikisahkan, Allah menjadikan manusia akhir atau puncak dari penciptaan segala sesuatu. Lalu dalam Perjanjian Baru kita, manusia menjadi pusat dan perhatian pertama yang dapat diperbarui.  Mengapa Dibentuk Ulang? Dalam Firman Tuhan tertuliskan bahwa nenek moyang manusia, yaitu Adam dan Hawa, melawan perintah dan melanggar Huku...