*Rektor Universitas Islam Indonesia membacakan puisi ini pada Kenduri kemarin sore (22/11/2025) di Bundaran UGM.* *"TETAPLAH BODOH"* *Tetaplah bodoh ,kawan ,* *jika pintar menuntut kita percaya* *bahwa kayu* *gelondongan memang tumbang* *sendiri ,kebetulan saja sebagian diberi nomor* *agar tak tersesat pulang.* *Tetaplah bodoh ,kawan ,* *jika pintar* *mengharuskan kita sepakat* *bahwa sawit juga pohon karena punya* *daun hijau ,cukup untuk mengganti nama hutan ,* *meski akarnya tak lagi sudi menahan air.* *Tetaplah bodoh ,kawan ,jika* *pintar berarti curiga pada suara kritis ,dianggap menggiring opini ,menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna , dan empati harus menunggu siaran media.* *Tetaplah bodoh ,kawan ,jika pintar mengajarkan* *bahwa bantuan asing* *yang tak seberapa itu* *berbahaya ,bisa* *meruntuhkan martabat bangsa* *yang konon berdiri tegak—tanpa bantuan siapa~siapa.* *Tetaplah bodoh ,kawan ,jika* *pintar mensyaratkan* *bantuan ben...
Blog ini adalah ruang pribadi tempat saya menulis artikel, opini, referensi buku, dan catatan lainnya seputar isu-isu teologis. Tujuannya sederhana: melatih kemampuan menulis dan menumbuhkan kecintaan pada membaca. Semua tulisan di sini adalah hasil refleksi pribadi dan tidak mewakili pihak mana pun. Saya sangat menghargai jika pembaca bersedia memberikan saran atau tanggapan melalui kolom komentar.