AUTOKRTIK
Orang Moni tidak terlepas dari semua peristiwa sejarah dan dinamika perubahan tanah Papua dari zaman negara Nusa, abad ke-17, masa penguasaan koloni Belanda, sampai masa pemerintahan Indonesia pada abad ke-20. Secara eksplisit, orang Moni kontak dengan dunia luar tahun 1930-an melalui tim ekspedisi pemantauan udara, penjelajah antropolog dan geolog Belanda, dan diperkenalkan kepada lembaga evangelikal Kristen dari Eropa.
Sebelum Injil datang, masyarakat pribumi punya penghayatan Tuhan Allah dan memiliki nubuatan mengenai keemasan masa depan yang mereka selalu berjuang menggapai warisan nubuatan nenek moyang pada masa lampau agar diwujudkan pada masa kini. Tetapi pandangan hidup dan budaya serta pengalaman religius dianggap merintangi kegiatan penyiaran Injil. Kebiasaan masyarakat lokal menjadi basis pemusnahan demi menerima mutlak ajaran dan kehendak para penyiar Injil tersebut. Sebabnya, hakikat Injil, kabar baik yang membebaskan manusia dari dosa, berubah menjadi suatu kekuatan mesin pemangkas budaya dan sejarah masyarakat pribumi. Perilaku hegemoni pengetahuan dan budaya Barat turut memengaruhi perspektif para penyiar Injil terhadap sosial budaya basis proyek pekabaran Injil. Sehingga agama asli yang kebenarannya dijumpai lewat simbol, mitos, ritus, ungkapan dianggap sebagai penghalang untuk membebaskan jiwa dan pikiran manusia. Merupakan kekeliruan interpretasi atas konsep transendensi dan imanensi yang terkandung dalam budaya itu sendiri. Injil kekuatan Allah yang telah menyelamatkan itu mesti relevan dengan nilai-nilai budaya dan pola hidupnya sebagai media komunikasi Injil kepada masyarakat basis PI sehingga kembali menemukan keaslian masyarakat pribumi, mengarahkan pandangan dan harapan kepada objek yang benar, yaitu kepada Trinitas Allah dan Firman serta kehendak-Nya. Karena Trinitas Allah adalah Allah yang hadir dalam konteks budaya, atau dengan kata lain, kontekstualisasi pertama dimulai dari Allah dalam penciptaan dan Kristus dalam penjelmahan dan pelestariannya.
Sejarah gereja di Indonesia telah mencatat bahwa ada seorang misionaris yang memakai metode dan pendekatan pelayanan yang sangat kontras dengan pelayanan kolega lainnya. Pola pelayanan yang digunakan George E. Fisk, perintis Kalimantan Timur, pengutus penginjil dari Misi C&MA, memakai pola pelayanan tradisional setempat sebagai media penyampaian Injil kepada orang Dayak (Dr. Th. Wan Den End, 2016; hal. 182).
Dalam penulisan buku-buku yang dihasilkan orang Moni ataupun sumbangsi penulisan suku tetangga lain tentang orang Moni bahkan tidak mengalih konteks sosial budaya dan setiap peristiwa yang menyertainya. Setiap peristiwa sejarah dan konteks sosial masa lalu perlu dikaji dan dimaknai sebagai satu landasan pijakan menuju peradaban suku ke depan. Pdt. Yan R. Kobogoyauw, M. Th., dengan judul bukunya: Kilasan Sejarah Gereja Kemah Injil Indonesia di Lembah Kemandoga dan Mbiandoga. Ia mengutip perkataan seorang utusan Injil ke tanah Moni, Troutman: “Kami belum menemukan kata dalam bahasa Moni yang artinya ‘Allah’.”. Namun, beberapa saat kemudian mereka menemukan kata Allah dalam bahasa Moni, yaitu “Aiga Sonowi”. Sebelum Injil datang, orang Moni sudah mengenal Emo. EMO atau kata sifatnya Emogupame adalah sebuah anggapan yang berpikir bahwa ada salah satu oknum yang lebih besar sebagai penyebab utama yang sudah ada dari yang dapat nampak ini, sebagai penopang kehidupan dan pengatur jagat raya ini. Oknum itu kuasanya lebih besar. Makhluk supranatural yang bekerja melampaui batas dan kerjanya mengatasi langit dan bumi. Tempat keberadaannya berbeda dengan tempat tinggal manusia. Secara probabilitas, ada makhluk di atas langit dan ada pula makhluk lain di bawah bumi. Tetapi nama tersebut dianggap sesuatu yang menjinakkan nama Allah yang hidup dan kudus (Pdt. Yan Kobogpyauw, M. Th., 2015; hal. 38).
Pdt. Gibons dan Alice, dalam bukunya Ringkasan Sejarah Masuknya Injil di Pegunungan Tengah Papua, bahasa Damal – Indonesia, menulis bahwa orang Jepang melakukan banyak kejahatan terhadap orang Moni. Tetapi tidak menarasikan peristiwa dan kekerasan apa yang terjadi lebih lanjutnya sepotong-potong sejarah gereja orang Moni (Pdt. Donald Gibbons & Alice, 2021; hlm. 18).
Contoh dari dua penulis di atas, terdapat keganjilan menggambarkan orang moni dari dasar segi kebudayaan dan peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lalu. Sehingga tidak menjawab prinsip kajian ilmiah untuk mengemukakan suatu obejk kajian secara menyeluruh.
Namun demikian, kekurangan dan kelemahan para generasi tua masa lalu menjadi kekuatan pijakan kita generasi mudah saat ini untuk bangkit melakukan perubahan untuk tanah dan negeri serta gereja dan pemerintah. Menganggap menjadi suku yang penonton karena tidak ada dasar sejarah. Sejarah hubungan dengan peran perintis dan tokoh pemimpin lokal jemaat di daerah masa lampau. Mendominasi sejarah dan literasi karena orang Moni sendiri tidak punya budayakan menulis dan mendokumentasikan. Menulis sejarah menjadi beban bersama anak mudah suku Moni mengembalikasi sesuatu yang lama kembali ke meja untuk merestorasi, inovasi dan konsolidasi sejarah orang Moni sendiri sebagai menaruh pondasi dasar pijakan perubahan pada masa ke depan. Kesadaran ini menjadi latar belakang pemilihan judul Autokritik.

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah membaca tulisan ini. Kami sangat menghargai setiap pemikiran dan pengalaman yang anda bagikan. Silakan tuliskan komentar anda dengan penuh kejujuran dan rasa hormat, agar diskusi ini menjadi ruang yang membangun dan memberkati semua pembaca. Amakanee