Tantangan Kebenaran

TANTANGAN KEBENARAN

Dalam bagian tulisan ini, penulis akan menyajikan bahwa memang pada dasarnya kebenaran itu menolak eksistensi manusia, tetapi karakter terbentuk oleh pedasnya kebenaran. Api kebenaran akan membakar karakter yang bengkok, tingkah laku yang menyimpang.

Ancaman terhadap eksistensi martabat dan kelas sosial adalah kebodohan rohani yang dikerjakan oleh dosa. Kesenangan sendiri menyikingirkan kebahagiaan asli dan diantupkan mata hati untuk jelih melihat kebenaran.  Kekristenan merusak kesenangan sendiri, status sosial, dan eksistensi sehingga mengalami kekecewaan yang fatal. Memusatkan pada kekuatan diri, kemampuan intelektual, dapat diukur dengan kekayaan yang dimiliki, kekuasaan, kejayaan itu kemudian membuat memusatkan diri pada sekularisme materialistik. Hedonisme menjadi pusat dan keilahian. Hati telah direbut oleh kesenangan sekurel tadi. Telah lupa oknum pusat terakhir dan pusat berbagai-bagai sumber. Hati telah direbut dan menjadi pusat oleh ilah-ilah zaman. Ilah-ilah zaman seks, kejayaan, kekayaan, rasionalitas, intelektualistas dan lain-lain.

Pada zaman Renaisans, budaya baru telah cepat dan mampu mengubah tatanan kehidupan sosial. Dinamika perubahan itu memengaruhi manusia dan  kehidupan secara radikal. Dunia menjadi terbalik. Kombinasi pertemuan perubahan membawa perubahan baru yang dapat diterima dan manfaat baik yang dirasakan, dinikmati, dan dialami manusia, tetapi juga sebaliknya, yang dapat menyebabkan hal buruk datang dan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Kebiasaan hidup orang Kristen berubah drastis. Hatinya telah diombang-ambingkan oleh dinamika perkembangan dan perubahan tersebut. Ketika banyak orang berbondong-bondong mengejar kesenangan dunia, api kebenaran dari dalam diri orang percaya telah pudar. Keadaan hati dan pikiran manusia yang tidak mau taat dan tunduk pada otoritas Allah membuat memilukan Allah. Seperti kebodohan dan pelanggaran orang Israel yang menolak kebenaran menjadi kekayaan bagi dunia dan orang lain (Roma 11:12).

Pengalaman hidup sama seperti orang-orang Kristen-Yahudi kerajaan Romawi Kuno. Dalam dunia yang terpopuler budaya helenisme berbau budaya Yunani kuno menaklukkan seluruh wilayah kawasan kerajaan Romawi kuno. Filsafat orang Yahudi menyesatkan banyak orang Kristen. Kaum Sanhedrin menerjemahkan hukum ke dalam hukum sipil dan publik berdasarkan apa yang baik menurut parameternya, yaitu kaum profetik, yang paralel dengan kebudayaan setempat. Dalam tafsiran dan rumusan, sejumlah aturan Hukum Taurat Musa diterjemahkan sesuai dengan kebiasaan hidup warga setempat dan sangat baik kelihatan di atas kertas putih. Namun demikian, dalam praktiknya tidak disertai dengan hati yang pasrah kepada Tuhan. Dalam hatinya, tidak sama dengan apa yang mereka praktikkan. Hati mereka penuh dengan kebohongan dan memperdayakan banyak orang Yahudi dengan jalan penyimpangan dari kebenaran asli yang terkandung dalam hukum Musa tadi. Memungut kekayaan milik janda, duda, yatim piatu dan warga yang berada di kelas kedua atau ketiga dari stratifikasi sosial dengan jalan memilih pelayanan yang didasarkan pada maksud yang telah tertuang dalam Hukum Taurat tersebut. Mereka menafsirkan secara harfiah.  Menaati hukum sebagai suatu kewajiban agamawi/organisasi, tanpa menyadarkan lebih daripada itu sikap hati yang penyerahan penuh kepada Tuhan.  Tindakan sebagai sesuatu yang benar-benar keluar dari dalam hati itu yang benar dan dinilai Allah. Tetapi bukanlah demikia pada faktanya.

Dalam kebiasaan yang seperti itu, ajaran dan pernyataan sangat terancam eksistensinya dan jabatannya. Sangat tegas dan keras pernyataan Tuhan Yesus. Membawa bencana besar atas status mereka. Sangat pedas teguran yang membongkar sistem biasa yang mempropagandakan kebenaran. Salah satu contohnya adalah salah seorang pemimpin agama Yahudi, Nikodemus, yang sudah sesat (Yohanes 3:5-8; Yohanes 8:8). 

Dalam momen begitu, suara kritik pun berdatangan dari berbagai tingkat kaum profetik sebagai suara Tuhan untuk menegur kelakuan amoral. Kaum Profetik memiliki karakter kritis untuk mencelah cara dan sistem yang mengantikan posisi kebenaran dengan kelakuan dan tingkah laku yang beramoralitas. Nabi-nabi dan hakim menjadi agen Allah untuk menyampaikan kebenaran yang berisi tentang peringatan akan dosa dan tingkah laku yang buruk. Mereka menegur dengan suara provetical Voice kepada sistem imperium dominium, sistem yang menindas. Tokoh selebriti dalam Kitab Perjanjian Baru yang kokoh dan pemberani adalah  Rasul Yohanes. Ia berdiri tampil sebagai kilauan lampu  merah pada tiang Jaringan pada puncak gunung, mempopulerkan nama Tuhan Yesus Kristus kepada raja dan warga. Tuhan Yesus yang telah disalib itu karena dosa umat manusia itulah yang harus disembah. Di mana zaman itu disebut dengan penyiksaan umat Kristen dan banyak hamba Tuhan yang mati martir di tangan militer Romawi kuno.

Kontemporer dalam suasana Papua tidak terlepas dari pengalaman hidup bangsa dan orang Kristen pada masa lampau. Itulah nilai dan teladan pelajaran terbaik yang bisa kita turuti oleh kaum milenial. Banyak penemu telah menyebutkan bahwa generasi sekarang disebut dengan generasi Z, generasi milenial yang memiliki peran yang berdominan pada semua sentimen dan memengaruhi gaya new age itu telah membangkitkan semangat kita. 

Realitas Papua mengajak kita menghayati peristiwa yang dialami kaum profetik dan orang percaya lainnya pada masa kala dulu. 

Injil pada substansinya tidak dapat diubah, melainkan pada penerapannya dinamis dan fleksibel sesuai dengan perkembangan atau tuntutan zaman dan konteks setempat, hadir sebagai kekuatan yang memberikan pembebasan permanen. Pemberantasan budaya sistem yang menindas. Injil memberikan emansipasi bagi mereka yang merindukannya secara totaliter, baik dimensi jasmani maupun rohani (Yehezkiel 34:14-16). Hari ini peran kaum muda sangat menentukan. Orang yang memiliki kebenaran, dipimpin oleh kebenaran, akan dimerdekakan oleh kebenaran itu sendiri (Yohanes 8:32). Tiga hal penting harus kita mengerti dan pegang: pertama, memusatkan pada kebenaran Firman Allah, yaitu Alkitab; kedua, berdiri di atas kaki Yesus Kristus melalui beriman yang kokoh dan berani berbicara melalui berbagai cara. menyampaikan kegelisahan hati melalui dalam bentuk literasi digital, KKR, Doa, gerakan oikumenis. Baiklah, mari kita buat sesuatu sesuai dengan yang bisa kita buat secara reaktif, adaptif, fenomenologis.

Faktanya sudah jelas bahwa kerakusan kekayaan oleh Indonesia yang bermuka kapitalisme,  militerisme, kolonialisme, fasisme, dan rasisme secara masif, keloketif telah memproduksi label stigma  KKSB, KKB, teroris dialamatkan kepada orang asli Papua. Orang asli Papua sejak tahun 63 hingga kini, pelanggaran berat HAM semakin meningkat . Penerapan hukum yang tidak berkeadilan bagi orang Papua. Terus bertambah mesin bor untuk mengali emas, terus digerakkan militer, BIN, BAIS untuk mengawal ekspansi kepentingan ekonomi politik. Kekayaan dikuras habis oleh beragam perusahaan asing (Irigasi, tambang emas, pohon, kelapa sawit, minyak bumi, dll.). Wilayah pegunungan menjadi daerah operasi militer (DOM). Banyak warga yang jatuh ke tangan militer telah diabaikan. Banyak warga yang masih terus mendapatkan diskriminasi, ditembak mati, dan mengalami berbagai tindakan keterlibatan aparat keamanan dan pertahanan Indonesia. 

Di atas tanah yang terkaya masyarakat menjadi termiskin. Warga disekitarnya telah mengalami kerugian segala kekayaan dan sumber ketergantungan hidup telah di rusak. Segala habitat telah dimusnahkan karena menginap di rimba pembuangan perusahaan. Segala habitat dan sumber hidup masyarakat setempat telah dicemarkan. Melakukan perpanjangan kontrak, mengabaikan pelanggaran UU Minerba material yang telah dimusnahkan akibat mengena rimbah. Konstruksikan skema baru jalan toor di bawah tanah, menghisap perut bumi secara berkelanjutan. Hasil proyeksi oleh alat deteksi akumulasi sumber daya alam, negara menyebarkan tempat penambangan dengan julukan Blok A, B, atau Jilid II dan sebagainya. 

Pemerataan pembangunan pendidikan masih relatif rendah. Bagian pelosok kampung masih tinggi buta aksara dan sulit mendapatkan pendidikan yang layak, karena adanya operasi militer dan keterbatasan akses perkotaan. Misalnya, kuantitas pendidikan di Kabupaten Intan Jaya menurut data Dinas P&P 2019 adalah 47 pendidikan, terdiri dari satu SMA Negeri, SMP terdiri dari STA, STP, SMP, dan SD, serta tiga TK, satu di ibu kota Sugapa, TK ILUGUMA POGAPA, dan TK YOTADI, yang menyebar di delapan distrik dalam pascaoperasi militer dan sudah tidak berjalan sampai sekarang. Kecuali pusat ibu kota baru-baru tidak lama ini sedang berjalan.

Mendapatkan pelayanan kesehatan yang tidak maksimal. Lebih-lebihnya, kabupaten-kabupaten sangat sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak. Contohnya, di Kabupaten Intan, 37 rumah sakit bertumpu, menyebar ke delapan distrik, terdiri dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan pembantu puskesmas (Pustu) tidak berjalan. Tidak ada klinik, apotek dan rumah bersalin. Yang masih eksis di pusat ibu kota kabupaten. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, masyarakat melakukan perjalanan panjang ke Timika dan Nabire. Di masyarakat Papua, angka pengangguran sangat tinggi. Kesempat kerja semakin sempit di isi oleh kaum pendatang baik pada sistem birokrat maupun politik.

Dan banyak kenyataan yang tidak bisa kita berdalih dengan alasan apa pun, sebab kita lihat tindakan yang merendahkan martabat orang asli Papua dengan stigma yang menempel pada orang Papua. Orang Papua bodoh, tidak pintar, masih tertinggal, terbelakang, relatif konservatif, belum beradab, dll., yang dialamatkan kepada orang asli Papua. Karakter orang asli Papua dilumpuhkan dengan beragam tindakan intimidasi. Menyempitkan ruang kebebasan ekspresi. Terus kontrol dunia jurnalisme yang menuduh terkait Papua. Bagi pembela HAM dan kemanusiaan untuk Papua, negara dicap sebagai pelawan negara dan memberikan sejumlah tekanan.

Itulah kenyataan yang tidak bisa kita hindari yang selalu ada di depan kita. Psikologi kita terganggu dengan melihat dan menerima kenyataan ini. Jika hari kita tidak sadar dan berbuat apa yang bisa kita buat, terpunahlah kita dari negeri kita sendiri.

      Dalam suasana ini, bagaimana sikap dan tindakan kita, hamba-hamba Tuhan, menyikapi beragam problem ini sebagai bagian dari membaca tanda-tanda zaman? Melihat dari Kairos, bahwa saatnya gereja bertindak. Gereja merupakan kehadiran Allah secara visualitas pada dunia. Gereja bagian dari yang kudus berada dalam lingkungan sekitar yang melingkupi beragam persoalan. Sebagai contoh, bagian yang tentunya tidak mungkin lolos melewati rumah raba di jalan.  Gereja sebagai tangan Tuhan, mata, telinga, pikiran Tuhan, jeli melihat persoalan ini sebagai bagian yang tidak bisa dihindari. Di tengah pengaruh antarpihak penguasa dan masyarakat, gereja berada di tengah, bersinergi, memberikan pengaruh yang besar, berdiri sebagai Yohanes kedua di Papua, dengan berani berdiri di atas kaki kebenaran untuk berani bicara tentang kenyataan ini.

Di mana awal saya disebut dengan pengaruh gaya New Age, yang mana pemuda dan pemudi memiliki peran penting dalam zaman yang terus mengalami perubahan. Dengan demikian, pemuda dan pemudi harus mempersembahkan tubuh seutuhnya kepada Tuhan dan menjadi teladan bagi orang-orang yang bengkok hati, fasik, tidak  berkompromi melalui tindakan dan perkataan (1 Timotius 4:12). Dalam gejolak sosial ini, pemuda dan pemudi harus berani tampil sebagai rumah yang terletak di atas bukti yang semua orang dapat melihat  (Matius 5:13-16).

Kita berdiri di atas kaki kebenaran Tuhan Yesus berlandaskan kebenaran Firman Allah dan berani demonstrasi lewat media massa, literasi, kegiatan keagerejaan untuk dapat memulihkan keadaan di tanah ini. Kita belajar dari sejarah gerakan oikumenis. Peran pemuda dan pemudi sangat reaktif akibat gerakan revival melalui kebaktian kebangunan rohani dan bentuk lain yang digerakkan oleh kaum oikumenis. Misalnya, organisasi sukarela dibentuk secara spontan oleh kaum muda: Persatuan Para Pemuda Kristen (1844), Gerekan Mahasiswa Kristen abad ke-19. Melalui gerakan oikumenis, mahasiswa Kristen semakin kuat; telah didirikan Gerakan Sukarela Mahasiswa untuk Pekabaran Injil di luar negeri yang didirikan oleh John Mott (1888). Hari ini peran pemuda sangat dibutuhkan. 

Menurut pengamatan penulis, atas kegelisahan hati kita ketika melihat beragam problem itu, kita sadarkan diri kita dulu. Saya meminjam kata dari seorang aktivis dan Ketua Departemen Perempuan Gereja GIDI, Ibu Deli: kita harus mengolah perasaan, kemarahan, dan kegelisahan itu. Perasaan itu diolah menjadi sebuah proses dalam tindakan nyata. Perasaan itu diolah menjadi struktur baru tempat merampiaskan hati dan perasaan dalam tindakan praktis dari tempat masing-masing. Saya menyadari pernyataan ini sangat tegas dan keras, menyentuh kita dalam ketidaksadaran kita, memilih yang aman dan tidak mau menerima risiko dan menolak. Kebanyakan kita sangat jengkel atas beragam realitas ini, kemudian mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh. Saya melihat dalam perkumpulan mahasiswa, baik mahasiswa umum maupun teologi, ekspresi perasaan itu hanya melemparkan ke atas, tidak pernah ditunjukkan ke bawah atau ke dalam diri sendiri. Suatu perbuatan kita dalam keadaan ketidaksadaran akan konsekuensi yang sangat berbahaya. Tampak publik dan menjadi seorang tersohor; standar terbentuk, baik karakternya. Mengenal diri, siapakah aku ini? Dan mengenal setiap perbuatan. Integritas itu keluar dari perpaduan karakter yang baik, mengenal diri, dan mengenal setiap perbuatan. Maksud penulis menyadari ketidaksadaran kita untuk introspeksi diri membuat situs-situs kekerasan dan perampasan itu  terus memburuk, terus memanas. Pemahaman tentang gerakan atau usaha kegiatan yang tidak mendukung pemerintah atau separatisme memperdayakan kemandirian. Terlepas dari pengaruh dua dimensi usaha atau kegiatan itu, sifat kemerdekaan itu timbul dari bawah melalui pemperdayaan masyarakat. Kemerdekaan dari sudut pandang umum dipahami sebagai kemandirian dalam berbagai aspek. Baik aspek ekonomi, pendidikan, politik serta dari segi-segi lainnya. Secara sudut pandang khusus, kemerdekaan adalah terlepas dari pengaruh dan kuasa penjajah menuju penentuan nasip sendiri. Perjuangan secara khusus ada yang sedang berjuang. Dari Perspektif yang umum kita berjuang dari tempat, spesial, status sosial yang masing-masing dengan cara dan gaya yang masing pula. 

Demi kebaikan kita bersama, saya bersedia menerima kritik, saran dan berargumen anda untuk menumpang pikiran-pikiran yang baik, terkait peran kita dari tempat spesial kita masing-masing berpijakan dari pemahaman kemerdekaan yang sesungguhnya dari perspektif umum dan khusus.

Komentar